Mulai Berzakat

Zakat untuk Lampung yang Lebih Sejahtera

Zakat untuk Lampung yang Lebih Sejahtera
  •   Date :  November 01, 2018
  •   Hermawan Wahyu Saputra
  •   Editor
  •   Viewers :  31

ACTNews, BANDAR LAMPUNG - Namanya Kampung Sinar Laut, wilayah pesisir di Kelurahan Kota Karang Raya, Kecamatan Teluk Betung Timur, Kota Bandar Lampung, memiliki beragam kisah perjuangan penduduknya untuk bertahan hidup. Berada di bibir Pantai Teluk Betung, kampung yang dihuni 123 kepala keluarga (KK) dan 35 lansia itu memiliki beragam kisah perjuangan penduduknya untuk bertahan hidup. 

Mayoritas warga Kampung Sinar Laut bekerja sebagai nelayan dan buruh serabutan. Hasil tangkapan para nelayan ditampung, lalu dilelang atau diolah dalam bentuk makanan siap santap seperti ikan asin dan kerang hijau. 

Yusnaini (66), seorang warga dari Kampung Sinar Laut mengungkapkan, pengepul akan mengumpulkan hasil olahan tangkapan laut mereka. Selanjutnya, hasil olahan dijual ke penikmat kerang hijau, baik di Kota Bandar Lampung maupun di kabupaten lainnya. Tak hanya kerang hijau, masyarakat juga memproduksi ikan crispy dan abon. 

Yusnaini mengaku semangat untuk menghasilkan olahan bernilai yang terbuat dari bahan baku ikan teri, ikan tanjan, dan cumi-cumi. “Saya berharap ada pihak yang memberikan pelatihan mengenai inovasi produksi, pengemasan, dan penjualan. Selama ini penjualan hasil olahan bergantung pada pengepul,” kata Yusnaini. 

Harapan masyarakat Kampung Sinar Laut sebentar lagi akan terwujud dengan hadirnya Zakat City yang diinisiasi Kantor Kementerian Agama Kota Bandar Lampung.  Global Zakat - ACT Lampung turut serta menyukseskan Zakat City sebagai ikhtiar untuk mengentaskan kemiskinan dan mewujudkan Lampung yang lebih sejahtera dengan pendayagunaan dana zakat.  

Cahyo Prabowo dari Kemitraan Global Zakat - ACT Lampung mengatakan, pihaknya sendiri menggulirkan program zakat yang fokus pada pemberdayaan ekonomi produktif untuk lansia dan perempuan. “Kami fokus di Kampung Sindar Laut karena program pembagian nutrisi untuk lansia sudah berjalan. Kami juga sudah mempunyai relawan setempat yang akan memantau program pemberdayaan itu,” terang Cahyo.

Nantinya, kata Cahyo, masyarakat akan mendapat bekal pelatihan dalam mengolah sumber daya alam yang ada. Pendampingan dijadwalkan selama 6 bulan untuk memaksimalkan potensi ikan menjadi produk olahan bernilai ekonomi tinggi seperti makanan tradisional empek-empek dan otak-otak. 

Selain itu, ACT juga menggandeng Komunitas Safe Food Indonesia (SFI) dan beberapa orang relawan. SFI merupakan komunitas beranggotakan pengusaha Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah. SFI akan membantu beri pelatihan berbasis makanan yang baik, sehat, dan halal. 

“Tak hanya pelatihan produksi dan pengemasan, masyarakat juga diberikan pelatihan digital marketing. Harapannya bisa memandirikan penjualan produknya,” tambah Cahyo.

Kepala Bidang Penerangan Agama Islam Zakat dan Wakaf Wasril Purnawan dalam sambutannya menyinggung tentang pentingnya peningkatan manfaat dan mengelola ekonomi umat. Wasril hadir mewakili Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Lampung di peresmian yang digelar di Masjid Nurul Huda Bandar Lampung pada Rabu (31/10). 

Ekonomi  keumatan dalam konteks masyarakat muslim bermuara pada dua instrumen yaitu zakat dan wakaf. Penguatan instrumen sendiri harus dilakukan melalui kegiatan-kegiatan yang bisa meningkatkan taraf hidup masyarakat. Penguatan juga harus didukung oleh semua pihak yakni pilar pemerintah, amil, dan masyarakat. 

Wasril juga mengapresiasi Global Zakat - ACT Lampung yang sudah berkontribusi dalam program Zakat City. Katanya, Zakat City akan menjadi upaya untuk menggerakkan masyarakat dalam hal kedermawanan dan kerelawanan dapat ditularkan kepada seluruh masyarakat Lampung. “Gerakan kedermawanan Global Zakat ACT Lampung sangat bagus untuk ditularkan ke masyarakat, kami mengapresiasi kontribusi di Program Zakat City,” ucap Wsaril. 


Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Bandar Lampung Drs. H. Seraden M.H selaku Inisiator Zakat City juga menuturkan, program tersebut pertama kali dicanangkan di Kota Bandar Lampung. Berawal dilaksanakan di wilayah kecil seperti kelurahan. Namun, dengan berbagai kajian dan pertimbangan Kelompok Kerja (Pokja), program akan dilaksanakan di satu kecamatan yakni Kecamatan Teluk Betung Timur.  

“Zakat City diinisiasi karena kegelisahan untuk tetap berbuat demi kemaslahatan umat. Problem kemiskinan dan kebodohan belum terselesaikan secara zero. Sehingga, dana zakat memungkinkan bisa diberdayakan untuk meminimalisir problem tersebut,” kata Seraden. 

Program Zakat City sendiri terbagi menjadi dua lini yakni pendidikan dan agama. Semuanya akan dilaksanakan di 6 kelurahan Kecamatan Teluk Betung Timur selama enam bulan ke depan. “Kami ingin masyarakat naik harkatnya dari mustahik menjadi muzaki, dalam rangka membangun kota berdaya dengan keberkahan,” pungkasnya. []