Mulai Berzakat

Truk yang Amblas dan Tanah Berlumpur di Kamp Rohingya Waikong

Truk yang Amblas dan Tanah Berlumpur di Kamp Rohingya Waikong
  •   Date :  September 13, 2017
  •   Shulhan Syamsur Rijal
  •   Editor
  •   Viewers :  26

ACTNews, TEKNAF - Hujan lebat setiap hari hampir selalu datang di tanah Chittagong, Bangladesh. Sekali hujan turun, durasinya bisa berjam-jam. Dari siaran radio berbahasa Inggris di Bangladesh, Badan Meteorologi lokal di Chittagong mengatakan curah hujan memang sedang tinggi-tingginya di seluruh wilayah Chittagong. “Kemungkinan hujan harian potensinya ada di atas 60%,” kata si penyiar di radio lokal Bangladesh.

Rahardiansyah selaku pemimpin Tim SOS Rohingya ACT yang berada di Bangladesh bercerita, setiap harinya radio lokal pasti menyebut kemungkinan hujan. “Kalau hujan sudah turun, tantangan kita makin berat. Sebab ribuan kamp pengungsian Rohingya di Bangladesh ada di atas tanah berlumpur. Mobil bantuan bakal sulit sekali masuk ke dalam lokasi kamp pengungsian,” kisahnya.

Benar saja, tantangan itu hadir di depan mata ketika sejak pagi hari Senin kemarin (11/9), hujan tak henti turun deras sekali. Rahardiansyah mengatakan, hampir di seluruh wilayah Teknaf Upazila, Distrik Cox’s Bazar turun hujan lebat selama berjam-jam.

“Padahal hari itu kami harus masuk ke wilayah Waikong, di Teknaf Upazila. Kami membawa sejumlah truk besar berisi bantuan pangan dan logistik harian untuk pengungsi Rohingya yang sebelumnya belum pernah mendapat bantuan di sekitar kawasan Waikong,” kata Rahardiansyah.

Waikong Union adalah sebuah lokasi yang dekat sekali dengan perbatasan antara Bangladesh dan Myanmar. Selama beberapa hari terakhir, jumlah pengungsi Rohingya yang masuk ke Waikong makin membludak. Ribuan pengungsi pendatang baru datang ke kawasan ini. Kebanyakan orang Rohingya datang ke Waikong dengan menyeberangi Sungai Naf. Beberapa lainnya juga nekat menggunakan perahu kayu sarat muatan, melintasi laut Teluk Bengal dan berakhir dengan mendirikan tenda-tenda pengungsian di Waikong.  

Hari Senin kemarin, ketika Rahardiansyah pertama kali masuk ke Waikong, kondisinya hampir menyerupai titik kamp pengungsian Rohingya lainnya seperti di Kanzarpara, Kutapalong, dan Balukhali. Tiga lokasi kamp itu sempat disambangi bantuan Aksi Cepat Tanggap di hari-hari kemarin.

“Waikong didatangi ribuan pendatang baru orang Rohingya. Mungkin jumlahnya bisa sampai puluhan ribu. Banyak anak-anak dan balita di sini. Baru beberapa hari kemarin anak-anak dan balita itu lari dari kampung mereka di Sittwe. Tak ada makanan dan sanitasi yang baik di kamp pengungsian Waikong ini. Apalagi hujan dan lumpur memenuhi seluruh kawasan kamp,” kisah Rahardiansyah.

Truk bantuan dari Indonesia sempat terjebak lumpur

Hujan lebat yang tak henti turun bahkan sejak malam sebelumnya membuat jalan penghubung Teknaf Upazila dan Waikong penuh lumpur. Dari tengah Kota Chittagong, truk bantuan Indonesia yang berisi ribuan paket logistik dan makanan bergerak menuju Waikong. Sampai di dekat dengan zero line atau tapal batas antara Myanmar dan Bangladesh truk bantuan dari Indonesia itu sempat terjerembab, oleng dan masuk ke dalam lumpur.

“Truk berbendera ACT dan Indonesia itu masuk ke dalam lumpur. Tak mungkin bergerak. Padahal bantuan di dalam truk jumlahnya ribuan paket. Jalanan sangat becek, truk yang kami bawa ke Waikong juga cukup besar. Tidak ada cara lain, kami pindahkan bantuan itu ke mobil yang lebih kecil,” ujar Rahardiansyah.

Ribuan paket bantuan pangan dipindahkan ke mobil yang lebih kecil, sementara ratusan paket lainnya langsung dibagikan di titik truk bantuan terjerembab lumpur itu. “Warga Rohingya yang berada di kamp Waikong kami panggil untuk mendekat ke truk, distribusi bantuan kami lakukan di lokasi truk terjerembab. Tak ada waktu lagi untuk memindahkan seluruh paket bantuan ke mobil yang lebih kecil,” cerita Rahardiansyah.

Hari Senin kemarin, total ada sekira 2.150 paket bantuan yang dikirimkan ke Waikong. Sejumlah 500 paket merupakan bantuan pangan, 350 paket berisi pakaian, 800 paket air mineral, dan 500 paket berisi alat memasak.

“Untuk beberapa hari ke depan, ACT akan kembali lagi ke Waikong membawa bantuan masyarakat Indonesia. Bantuan berikutnya yang bakal masuk adalah obat-obatan, banyak sekali pengungsi yang mengalami gangguan kesehatan,” pungkas Rahardiansyah. []