Mulai Berzakat

Sumur Payau, Warga Pandeglang Butuh Air Bersih

m
  •   Date :  February 04, 2019
  •   Eko Ramdani
  •   Editor Dyah Sulistiowati
  •   Viewers :  17

ACTNews, PANDEGLANG - Krisis air bersih masih menggelayuti warga Pandeglang, meski lebih dari sebulan lamanya tsunami menghantam wilayah pesisir Selat Sunda. Kecamatan Sumur menjadi wilayah terdampak parah, di mana warganya kini masih berjibaku untuk mendapatkan air bersih guna memenuhi kebutuhan harian. 

Dari laporan yang dihimpun tim Aksi Cepat Tanggap (ACT) di lapangan, Kecamatan Sumur sedang mengalami krisis air akibat payaunya sumur warga. Air tsunami yang membanjiri pemukiman juga masuk ke dalam sumur sumber air bersih warga. Kini, air berubah rasa, tak layak untuk dikonsumsi oleh masyarakat. Desa Kertajaya salah satunya.

 

Salah satu warga Desa Kertajaya, Ohim Pahrudin, mengatakan pascatsunami air di sumur warga berubah rasa. Sebelumnya, rasa air sumur warga terasa tawar layaknya air bersih. Akan tetapi, tsunami yang menghantam desa tersebut hingga ketinggian mencapai leher orang dewasa, juga merendam sumur warga.

“Air laut masuk ke sumur warga, jadi tercemar, juga kan meresap ke tanah, enggak layak untuk diminum, kalau kata orang sini bilangnya rasa airnya anta (payau),” tutur Ohim, Rabu (27/1).

Sumur tercemar

Siang itu juga Ohim mengajak tim ACT untuk melihat sumur di rumah warga. Jarak sumur di permukiman warga itu dengan tepi pantai tak kurang dari 100 meter jaraknya. Air laut pada petang kelam itu membanjiri Kertajaya hingga merusak beberapa bangunan. 

Sumur yang kami datangi  berada di rumah Ohim sendiri. Galian sumur serta genangan air yang tak terlalu dalam membuat jelas warna air dari atas. Warna keruh, tak sebening air sumur pada umumnya terlihat. “Di sini sumur enggak terlalu dalam, tapi sudah bisa keluar air,” jelasnya.

Ohim mencoba mengambil air dalam sumur tersebut dengan timba. Saat dirasa dengan ujung lidah, rasa payau langsung terasa. Wajar jika warga tidak memanfaatkan air sumur yang ada di permukimannya untuk konsumsi juga mandi.  “Semua sumur di sini seperti ini rasanya, tidak layak konsumsi, paling warga pakai hanya untuk mencuci piring saja,” tambah Ohim.

Kini, warga pedesaan yang letaknya berbatasan dengan pantai yang terimbas tsunami hanya berusaha mencari sumber air dari tempat lain. Menggali sumur baru pun pernah dilakukan di beberapa lokasi, termasuk oleh Ohim di sekitar rumahnya. Namun, rasa air yang keluar sama saja dengan sumur yang sudah ada: agak asin.

Ohim dan warga Desa Kertajaya lainnya saat ini harus berjalan ke arah perbukitan yang ada di belakang desa mereka untuk mengambil air. Lebih kurang 1 kilometer untuk sampai di sungai yang menjadi sumber air sementara warga ini. “Sekarang jauh ambil airnya, mending enggak makan daripada enggak minum,” ungkap Ohim.

Meskipun demikian, Ohim dan warga lainnya amat bersyukur siang itu mendapatkan pasokan air bersih yang dibawa langsung oleh Humanity Water Tank ACT. Menurutnya, baru hari itu ia mendapat bantuan air bersih keliling.

Rabu (27/1), truk tangki air itu mendistribusikan 10.000 liter air bersih ke dua desa yang membutuhkan, yakni Desa Kertajaya dan Desa Sumberjaya.  Air yang didistribusikan ke wilayah tersebut diambil dari sumber air siap minum di wilayah Pandeglang.

Humanity Water Tank penuhi kebutuhan air warga

Tak hanya Desa Sumberjaya dan Desa Kertajaya saja yang mengalami krisis air bersih pascatsunami. Hal ini juga menimpa beberapa desa lain di Kecamatan Sumur, yang berbatasan langsung dengan pantai dan diterjang air naik pada akhir Desember silam itu.

Pengoperasian Humanity Water Tank oleh ACT ditopang dari dana zakat masyarakat Indonesia, yang disalurkan melalui Global Zakat. Hingga kini, Humanity Water Tank terus penuhi kebutuhan air warga Pandeglang, khususnya di Kecamatan Sumur yang menjadi salah satu wilayah paling parah terdampak tsunami Selat Sunda.

 

 Koordinator Humanity Water Tank Ahmad Rifai mengatakan, kebutuhan air masyarakat di Sumur terus dipenuhi ACT. Dengan menempatkan tandon di beberapa titik, nantinya secara berkala akan diisi dengan Humanity Water Tank yang membawa air siap minum. “Humanity Water Tank melakukan aksi di Pandeglang sudah sejak dua pekan pascatsunami lalu,” katanya. []