Mulai Berzakat

Senyum Sempurna Ketika Beras Kapal Kemanusiaan Berlabuh di Kaxda

Senyum Sempurna Ketika Beras Kapal Kemanusiaan Berlabuh di Kaxda
  •   Date :  September 14, 2017
  •   Shulhan Syamsur Rijal
  •   Editor
  •   Viewers :  15

ACTNews, MOGADISHU - Mobil berbelok tajam dari jalur utama penghubung Kota Mogadishu. Sudah sekira 20 menit sejak mobil meninggalkan keramaian pasar dan lalu lalang Kota Mogadishu. Kontur jalan yang dilewati pun kini berubah, bukan lagi aspal bolong di sana-sini yang jadi ciri khas jalan di Mogadishu.

Kemudian mobil bergerak ke arah barat dengan jalan yang menanjak dan menurun seperti melintasi bukit-bukit kecil. Jalurnya berubah jadi tanah berdebu dengan kerikil kecil. Sekian menit berlalu tampak papan nama kayu yang dipacak di tanah gurun, gersang berdebu ala Somalia bertuliskan: District Kaxda.

Selamat datang di Kaxda (baca:Kahda), distrik baru yang dibentuk sekitar tahun 2009 lalu. Sebelumnya Kaxda hanyalah tanah kosong serupa padang pasir mahaluas. Tapi, hari ini Kaxda adalah distrik dengan populasi mayoritas puluhan ribu pengungsi Somalia. Puluhan ribu pengungsi menetap di kamp-kamp yang tidak pernah bisa dianggap layak. Tenda pengungsian setiap keluarga itu hanya beratap terpal dan fondasi ranting kayu. Bentuknya sama, komposisinya sama, hanya warna-warna tenda pengungsiannya yang berbeda-beda. Tenda pengungsian ala kadarnya itu jadi satu-satunya rumah paling berharga bagi puluhan ribu pengungsi internal di Kaxda.

Sore itu, Kamis (7/9) kami, Tim Global Qurban untuk Somalia, mendapat kabar bakal ada distribusi beras Kapal Kemanusiaan di Distrik Kaxda, Banadir Region. Ya, proses distribusi beras Kapal Kemanusiaan masih berlangsung sampai hari ini.

Karena Tim Global Qurban masih berada di Mogadishu, kabar distribusi beras di Kaxda itu tak bisa kami lewatkan. Segera kami melaju menggunakan mobil menuju Distrik Kaxda.

Sejak pertama kali beras Kapal Kemanusiaan merapat di Pelabuhan Mogadishu, Komite Bencana Nasional Somalia langsung berada di bawah Kementerian Kebencanaan Somalia menjadi pihak yang menerima amanah distribusi Beras Kapal Kemanusiaan. Awal Juni kemarin, berlokasi di Pelabuhan Mogadishu, serah terima beras diberikan langsung Aksi Cepat Tanggap atas nama bangsa Indonesia ke Komite Bencana Nasional Somalia.

Puluhan kontainer bantuan beras dari Indonesia untuk Somalia diturunkan satu persatu menuju gudang penyimpanan sementara. Beras dijaga kelembabannya agar tetap awet dan berkualitas baik. Dari gudang penyimpanan sementara, beras pun diangkut dan dikirimkan menuju ke titik-titik gudang yang lebih kecil di tiap distrik di Somalia.

Distrik yang mendapat prioritas distribusi beras Kapal Kemanusiaan adalah distrik yang menampung ribuan pengungsi, baik itu di ibu kota Mogadishu maupun menyebar luas sampai ke wilayah pelosok lain di Somalia.

Dari sekian banyak lokasi distribusi, Kaxda menjadi salah satu lokasi prioritas mengingat distrik ini dihuni puluhan ribu pengungsi. Tak ada yang tahu pasti berapa jumlahnya. Mereka tak punya rumah, tak ada pekerjaan, tak punya sanitasi sama sekali. Sementara perut mereka kosong, gurat wajah mereka lemas.

Senyum sempurna jelang sore hari di Kaxda

Berlanjut masuk ke dalam area Kaxda, kami menyadari satu hal bahwa distrik ini yang ada hanya tanah lapang, tanah luas berpasir gurun penuh debu. Di atas pasir-pasir gurun itu berdiri ribuan kompleks kamp pengungsian. Setiap kompleks kamp punya namanya masing-masing.

Mohammed Ismail Abdulahi, Deputi Komisioner Distrik Kaxda mengajak menilik gudang penyimpanan sementara ratusan karung-karung beras Kapal Kemanusiaan. Beras yang masih dijaga kualitasnya itu disimpan di sebuah gudang di deretan pasar Kaxda.

“Kami di Kaxda tidak memberikan karung-karung beras dari Indonesia ini ke setiap keluarga, kami lebih memilih untuk memberikan bertahap beras-beras ini ke dapur umum yang ada di setiap kamp, agar pembagiannya lebih merata. Semua bisa merasakan kenyang,” kata Mohammed dengan bahasa Inggris berlogat Somalia.

Mohammed menjelaskan, memang tak semua kamp pengungsian di Kaxda punya dapur umum. “Beberapa pengungsi pendatang baru, selama setahun terakhir membludak membuat kamp-kamp baru di Kaxda. Hanya tenda-tenda seadanya. Tanpa dapur,” ujar Mohammed.

Jumlah pengungsi di Kaxda makin hari makin meningkat. Sepanjang tahun kekeringan hebat di pelosok Somalia memaksa ribuan keluarga lari menuju Mogadishu, mengharap kehidupan lebih baik di Mogadishu. Mereka memulai hidup baru sebagai pengungsi di Kaxda, juga di distrik lain di sekitar Mogadishu.

“Ratusan kilometer jarak yang mereka tempuh dari Bay, Bakool, Middle Shabelle, Lower Shabelle, Jubaa, juga dari Kamp Dadaab di Kenya. Mereka menuju Kaxda dengan keledai, berjalan kaki, atau menumpang mobil. Tapi menjadi pengungsi di Mogadishu pun tidak pernah menjadi lebih baik,” pungkas Mohammed.

Menu beras dari Indonesia

Dari gudang penyimpanan beras di tengah pasar Kaxda, Mohammed lekas memerintahkan beberapa petugas keamanan distrik mengangkut puluhan karung beras ke sebuah mobil. “Mari, kita bergerak ke sebuah kamp tidak jauh dari sini. Hari ini jatah kamp itu menerima beras-beras dari Indonesia ini,” ajak Mohammed sembari menunjuk jemarinya ke arah sebelah Timur Laut dari Pasar Kaxda.

Perjalanan melintasi gersangnya pasir gurun Kaxda kembali berlanjut. Kali ini rombongan Mohammed juga diiringi dengan sebuah mobil tertutup yang diisi puluhan karung beras Kapal Kemanusiaan, jika satu karung beras itu beratnya 25 kg berarti satu mobil itu membawa sedikitnya 400-500 kilogram untuk satu kamp di ujung timur laut Kaxda.

Tak lebih 15 menit perjalanan, mobil berhenti tepat di gerbang kamp. Tapi kamp ini beda, tak ada namanya, atau mungkin kami yang luput tak menemukan plang nama kamp. Mohammed segera turun, mengucap salam dengan tetua kamp pengungsian. Dengan perbincangan singkat, puluhan karung beras diturunkan satu per satu di depan dapur umum kamp. Tawa bahagia pun perlahan hadir di wajah belasan, puluhan, bahkan ratusan penghuni kamp yang datang satu-persatu melingkari karung-karung beras itu. Senyum mereka kompak, senyum sempurna.

“Insya Allah, beras-beras dari Indonesia ini sangat berguna untuk mereka. Tidak ada yang tidak lapar di kamp ini. Mungkin sehari mereka makan hanya satu hari sekali. Terima kasih Indonesia,” ujar Mohammed mewakili ratusan keluarga penghuni kamp yang kami sambangi sore itu.

Sore itu, karung-karung beras itu langsung dibopong kembali masuk ke dalam dapur umum. Si ibu-ibu Somalia berjilbab panjang berwarna-warni itu tangkas memilah beras, memasukkannya ke dalam panci besar, lantas menyalakan api di tungku.

Menu makan mereka malam itu: beras dari Indonesia. []