Mulai Berzakat

Pendampingan Intensif Pasien BeGiTu di Lombok

Pendampingan Intensif Pasien BeGiTu di Lombok
  •   Date :  January 29, 2019
  •   Nimas Afridha Aprilianti
  •   Editor
  •   Viewers :  128

ACTNews, LOMBOK TIMUR - Setelah melakukan pemeriksaan rutin dalam masa pemulihan gizi anak di Lombok, Tim Bengkel Gizi Terpadu (BeGiTu) Aksi Cepat Tanggap (ACT) juga melakukan pendampingan dengan melakukan home visit. Tim menyambangi kediaman para pasien Bawah Garis Merah (BGM) yang berhalangan hadir ke lokasi pelayanan pada Sabtu (19/1).

“Mereka berhalangan hadir sebab jalan dari desa mereka terhalang proyek pelebaran jalan. Lalu, beberapa hari kemarin sampai sekarang masih suka hujan angin, jadi hampir setengah dari total 104 peserta tidak bisa hadir ke lokasi pelayanan. Tapi kalau peserta semua hadir, Tim BeGiTu juga sebenarnya biasa melakukan home visit ke pasien BGM,” papar M. Iqbal Nurwahid, Tim BeGiTu ACT.

Rindang Triani, pasien BGM pertama yang dikunjungi Tim BeGiTu ACT pada Kamis (24/1). Rindang berusia 25 bulan, anak dari pasangan Murtindih (45) dan Tetik (29). Mereka hidup dengan kondisi seba sederhana di Dusun Mentagi, Desa Sembalun, Kecamatan Sembalun, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat.

Iqbal mengungkapkan, ayah Rindang hanya bekerja sebagai buruh tani yang diberi upah secara harian, sementara sang Ibu tidak bekerja. “Hanya ayahnya saja yang mencari nafkah. Ibunya bertugas mengurus anak-anaknya di rumah, termasuk Rindang yang tidak bisa lepas dari pelukan sang Ibu,” kata Iqbal.

Tak hanya Rindang, terdapat dua pasien BGM lain yang juga disambangi kediamannya oleh Tim BeGiTu ACT. Mereka adalah Akso Saputra dan Ezal Ramadhan, keduanya baru berusia 16 bulan. Akso tinggal di Daya Rurung Timur, sedang Ezal di Daya Rurung Barat, masih di kecamatan yang sama yakni Sembalun.

Menurut laporan Iqbal, orang tua Akso dan Ezal juga berprofesi sama, sebagai buruh tani. Kondisi ekonomi membuat kehidupan mereka harus prihatin. Bahkan Akso dan Ezal terpaksa harus diasuh oleh sanak-saudara, sementara orang tua mereka pergi mencari nafkah.

“Akso dan Ezal juga termasuk anak yang tak suka makan, mereka lebih memilih jajan di warung. Mungkin itu salah satu penyebab Akso dan Ezal masuk ke kategori gizi BGM,” jelas Iqbal.

Kondisi ekonomi dan kurangnya pengetahuan akan pentingnya gizi bagi anak lah yang membuat Tim BeGiTu ACT terus berikhtiar. Iqbal mengatakan, Tim BeGiTu melakukan pendampingan guna memperbaiki bahkan memulihkan gizi anak-anak di Lombok. Pendampingan dilakukan dengan pemeriksaan kesehatan rutin, pemberian makan bergizi secara berkala, juga edukasi dan pemberdayaan terhadap orang tua pasien.

“Lewat BeGiTu, ACT berharap bisa membuat masyarakat Lombok hidup sehat sekaligus mandiri. Kami akan terus melakukan aksi pemulihan gizi ini secara terpadu, partisipatif, dan berbasis sumber daya lokal. Sehingga tak ada lagi aspek-aspek yang menyebabkan munculnya gizi buruk, insya Allah,” pungkas Iqbal. []