Mulai Berzakat

Merantau Demi Melanjutkan Pendidikan

1
  •   Date :  April 05, 2019
  •   Eko Ramdani
  •   Editor Dyah Sulistiowati
  •   Viewers :  129

ACTNews, KEPULAUAN MENTAWAI – Sejak usia sekolah dasar, Yuslim Kelana sudah merantau ke Desa Sikakap yang menjadi ibu kota Kecamatan Sikakap, Kabupaten Kepulauan Mentawai di Sumatra Barat. Di Sikakap, ada madrasah ibtidaiyah satu-satunya di Pulau Pagai. Yuslim melanjutkan sekolah di sana, meneruskan pendidikan untuk masuk di kelas empat sekolah berbasis keislaman.

Tanpa orang tua, Yuslim merantau. Ia tinggal di rumah kerabat di Sikakap, satu tahun lamanya. Bocah seusia kelas empat sekolah dasar itu sendirian, tanpa dampingan orang tua. “Jarang orang tua ke sini (Sikakap), mereka tinggal di kampung sana,” tutur Yuslim saat menerima beasiswa dari Global Zakat-ACT di Kompleks Madrasah Aliyah Darul Ulum Sikakap, Ahad (24/3) lalu.

Bukan tanpa sebab orang tua Yuslim jarang mengengok anak keduanya itu. Jarak tempat tinggal orang tua Yuslim di Dusun Tubeket, Desa Makalok, Pagai Selatan dengan Sikakap cukup jauh. Bukan jarak yang menjauhkan, tapi jalur serta medan perjalanan yang menjadi kendala. Tak kurang dari 45 menit harus ditempuh melalui jalur sungai dan menyeberang lautan Selat Pagai menggunakan perahu cepat. Tak ada jalur darat tersedia. Kalaupun ada, medan jalan sangat berat dan akan memakan waktu lebih lama.

Pertama kali merantau ke Sikakap, Yuslim bersekolah di madrasah ibtidaiyah yang letaknya persis di depan masjid raya yang ada di depan Pelabuhan Sikakap. Hanya madrasah itu yang merupakan sekolah formal yang berbasis keislaman di Pulau Pagai. Wajar saja jarang sekolah islam di Mentawai, termasuk Pagai. Islam menjadi agama minoritas di sana. Walau begitu, kerukunan agama menjadi prioritas, tak pernah ada konflik antaragama di Pagai.

Tak jauh berbeda dengan Yuslim yang saat ini sudah kelas XI madrasah aliyah, Rosanti Rospita yang saat ini sedang duduk di kelas X MAS Darul Ulum juga merantau ke Sikakap sejak kecil. Santi meninggalkan ibu dan kakak-kakaknya di Tubeket untuk melanjutkan sekolah. Minim fasilitas pendidikan formal keislaman di pulau Pagai, termasuk Tubeket, memaksa banyak anak dari berbagai penjuru Pagai datang ke Sikakap untuk melanjutkan di sekolah Islam yang hanya ada di Sikakap. Itu pun hanya satu sekolah per jenjang pendidikannya.

Minim fasilitas

Cikal-bakal MAS Darul Ulum berasal dari panti asuhan yang berdiri di Sikakap, Kepulauan Mentawai. Di panti itu menampung anak-anak yang bersekolah di madrasah dan berasal dari luar Sikakap. Tak ada pungutan yang dipaksakan kepada penghuni panti karena mereka juga datang dari keluarga prasejahtera di pedalaman Mentawai.

Kepala Sekolah MAS Darul Ulum Iswandi menuturkan, saat pertama kali panti asuhan Darul Ulum berdiri, 100 persen penghuninya ialah anak-anak dari Dusun Tubeket. Tubeket merupakan salah satu dari sedikit dusun yang memiliki penduduk beragama Islam seluruhnya. Di sana tak ada fasilitas sekolah islam. “Di sana sebenarnya ada sekolah, tapi hanya sampai kelas 3 MI, kalau mau lanjut di MI harus ke Sikakap, kalau tidak ya ada sekolah umum di Desa Makalok. Tapi Islam menjadi minoritas di sana,” jelas Iswandi, Senin (25/3).

Sekolah MI yang tersedia di Tubeket baru berdiri sekitar tahun 2000-an. Itu pun atas prakarsa warga Tubeket, tokoh masyarakat serta beberapa lembaga dari Sikakap yang mengupayakan pendidikan dusun yang hanya dihuni 45 kepala keluarga. Tak ada bangunan mewah untuk sekolah, hanya ada 3 ruang kelas, 1 kantor sekolah yang saat ini kondisinya memprihatinkan dengan kaca-kaca jendela yang sudah banyak pecah.

Untuk anak usia dini, terdapat sekolah Pendidikan Anak Usia Dini Silaigat. Hanya satu kelas tersedia. Tak ada tempat bermain layaknya PAUD yang ada di perkotaan. Dinding sekolah itu pun hanya terbuat dari kayu yang berongga.

Salah satu tokoh masyarakat Tubeket, Firman Samopo, menjelaskan, pendidikan keislaman untuk masyarakat Mentawai, khususnya di Pagai masih minim. Fasilitas pendidikan formal hanya ada di Sikakap. Sedangkan untuk penduduk di pedalaman harus merantau ke Sikakap atau terpaksa sekolah di sekolah umum yang minim pembelajaran Islam.

MI yang ada di Tubeket merupakan kerja sama dari sekolah induk yang ada di Sikakap. Kerja sama hanya diberikan dalam bentuk upah kepada guru yang per bulannya hanya 300 ribu rupiah. “Cuma ada satu guru yang mengajar, itu pun warga lokal sini (Tubeket) yang hanya lulusan sekolah menengah atas,” jelas Firman.

Setelah selesai kelas 3 MI di Tubeket, Firman yang dahulu juga menjadi guru di sekolah itu menjelaskan, anak didiknya diminta merantau ke Sikakap demi melanjutkan pendidikan Islam. Walau tanpa sanak-saudara, tak sedikit mereka nekat ke Sikakap dan dicarikan tumpangan tempat tinggal.

Melihat keadaan itu, Firman bersama tokoh masyarakat lain mendirikan panti asuhan Darul Ulum untuk menampung anak yang bersekolah di Sikakap. Di panti asuhan Darul Ulum, mereka mendapatkan tempat tinggal, konsumsi, serta pendidikan keislaman tambahan. “Setelah anak-anak panti itu selesai menempuh pendidikan di Madrasah Tsanawiyah yang juga di Sikakap, mereka ke sekolah umum karena tak ada MA, dari situlah dimulai merintis MAS Darul Ulum sebagai sekolah formal dengan modal ruang kelas dari ACT pada tahun 2016,” kenang Iswandi saat awal MAS Darul Ulum berdiri.

Sampai saat ini, pendidikan di Tubeket masih minim fasilitas. Tak ada perubahan pada MI Tubeket sejak pertama kali berdiri, bahkan semakin memprihatinkan dengan melihat kondisi fisik bangunan sekolahnya. Dusun Tubeket seakan terisolir dari kemajuan pesat teknologi, komunikasi hingga pendidikan yang dapat di temukan di perkotaan, termasuk Padang yang menjadi ibu kota Sumatra Barat yang berjarak tempuh paling lama 13 jam. []