Mulai Berzakat

Merajut Cita Pelajar Yatim Uighur di Turki

bantuan-uyghur
  •   Date :  January 30, 2019
  •   Dyah Sulistiowati
  •   Editor Gina Mardani Cahyaningtyas
  •   Viewers :  194

ACTNews, ISTANBUL – Antusias belajar tampak pada diri siswa-siswi di sebuah pusat pembelajaran anak-anak Uighur di Istanbul. Setiap hari para pelajar sudah tiba di sekolah itu sejak Subuh untuk salat berjamaah, belajar, dan sarapan.

“Setelah sarapan mereka ke sekolah formal. Pada sore menjelang malam mereka kembali lagi ke sini untuk belajar 2 jam, kami sebut Etut/Takviya, mereka belajar seperti matematika, Bahasa Inggris, sains, dengan dibantu guru-guru kami,” rutinitas itu diceritakan Abdulghofur, pengelola pusat pembelajaran tersebut kepada tim ACTNews di Istanbul, Sabtu (26/1).

 

Para pelajar itu merupakan yatim. Mereka harus berpisah dengan ayah atau ibu mereka karena bermacam sebab, ada yang orang tuanya meninggal atau dipenjara. “Orang tua mereka berada dipenjara, vonis 16 tahun, 20 tahun, tiada kabar. Ada pula yang terdengar sudah meninggal (dipenjara), dan ada juga anak-anak yang keadaan orang tuanya sama sekali tidak diketahui,” kata Abdulghofur.

Sekalipun keadaan pusat pembelajaran tersebut belum baik, keadaan itu tetap tidak membuat Abdulghofur dan pengurus lainnya kehilangan kedermawanan. Mereka tetap berusaha membantu sejumlah keluarga Uighur yang mereka temui.

Abdulghofur menjelaskan, pusat pembelajaran yang dikelolanya pun mendapat bantuan dari warga Uighur Turki yang kondisi ekonominya baik, dari pengusaha Uighur yang ada di Arab Saudi dan negara lain, juga dari Turkistan Timur (Xinjiang). Bantuan tersebut antara lain untuk pembangunan gedung sekolah. Sayangnya, sejumlah bantuan itu kini terhenti.

“Seharusnya bangunan ini selesai dua tahun lalu, tapi karena keadaan di sana (Turkistan Timur) semakin memburuk jadi bantuan terhenti dan pembangunan tersendat. Jika bangunan ini rampung pembangunannya, maka bisa menampung sekitar 400 anak,” ungkapnya.

“Beberapa keluarga memiliki atau mendapat kiriman uang, ada yang sekitar 3.000-5.000 dollar yang menjadi pegangan hidup mereka. Namun sekarang sudah habis, ada juga yang punya pegangan lebih namun sekarang sudah sangat menipis,” jelas Abdulghofur.

Masih dalam rangkaian menunaikan amanah masyarakat Indonesia untuk Uighur, ACT kembali menyalurkan bantuan pendidikan bagi 40 pelajar yatim di pusat pembelajaran yang dikelola Abdulghofur. Beasiswa pendidikan tersebut merupakan lanjutan dari bantuan yang ditujukan untuk anak yatim Uighur di Turki. Bantuan ini juga ditopang dari dana zakat masyarakat Indonesia yang disalurkan melalui Global Zakat - ACT.

“Selain beasiswa pendidikan, beragam kebutuhan pokok lainnya juga kami bantu support, seperti paket pangan, atau logistik yang bisa mereka tebus secara cuma-cuma di swalayan terdekat melalui program Humanity Card,” jelas Sucita Ramadinda dari Tim Sympathy of Solidarity (SOS) untuk Uighur I. Bantuan serupa juga telah diberikan kepada ratusan yatim Uighur yang merupakan hafiz Alquran, di Istanbul.

Dengan bantuan yang diterima, Abdulghofur mengutarakan rasa syukurnya. Ia pun berterima kasih kepada masyarakat Indonesia atas kepedulian yang terus disampaikan hingga saat ini. []