Mulai Berzakat

Menuju Sikakap di Ujung Mentawai

1
  •   Date :  April 02, 2019
  •   Eko Ramdani
  •   Editor Dyah Sulistiowati
  •   Viewers :  59

ACTNews, KEPULAUAN MENTAWAI – Tepian Negeri Indonesia kembali disambangi, kali ini adalah Kabupaten Kepulauan Mentawai. Pekan ketiga Maret lalu, Global Zakat-Aksi Cepat Tanggap (ACT) memulai perjalanan ke Kecamatan Sikakap, Kabupaten Kepulauan Mentawai dengan membawa serta paket pangan serta beasiswa.

Kami menuju Madrasah Aliyah Swasta (MAS) Darul Ulum, Dusun Mabolak, Desa Sikakap dan perjalanan ditempuh dari pelabuhan di Padang, Sumbar. Dengan kapal cepat yang ada setiap Jumat, perjalanan hingga ke Pelabuhan Sikakap dapat ditempuh dalam waktu 4-5 jam. Sedangkan jika menempuh perjalanan dengan kapal ferry yang ada tiap Rabu dan Ahad, butuh waktu 13 jam perjalanan dari Padang hingga Sikakap.

Selama perjalanan, gugusan Kepulauan Mentawai dan tepian Pulau Sumatra menjadi pemandangan. Nelayan dengan sampan juga alat pancing sederhana beberapa kali terlihat di sepanjang perjalanan. Cuaca sedang cerah hari itu. Akan tetapi, jika cuaca buruk, pihak kapal memilih menunda perjalanan demi keselamatan penumpang dan awak.

Jumat (22/3), dari Padang, Sumbar, kami melanjutkan perjalanan dengan kapal cepat ke Sikakap. Tepat pukul 07.00 WIB kapal berangkat dan melabuh di Pelabuhan Sikakap, Kepulauan Mentawai pukul 11.30 WIB.

Sepi penumpang

Untuk sampai ke Sikakap dari Padang, setiap pengunjung, baik itu turis maupun pedagang dan penduduk di sana harus menempuh perjalanan laut. Hanya ada tiga kapal yang menghubungkan Padang-Sikakap dan sebaliknya.

Kapal Motor Penumpang (KMP) Gambolo dan Ambu-Ambu dari Padang hanya melakukan perjalanan pada Selasa dan Sabtu sore. Kapal jenis ferry itu bakal tiba pada keesokan harinya atau sekitar 13 jam perjalanan di Sikakap. Namun, jika wisatawan, pedagang atau penduduk Sikakap ingin cepat tiba di tujuan, mereka harus menunggu hari Jumat untuk menumpang di kapal cepat.

Walau perjalanan ke Sikakap hanya tiga kali dalam satu pekan, namun tak selalu dipenuhi penumpang. Nahkoda kapal cepat Mentawai Fast Rizaldi yang kami tumpangi pada Jumat (22/3) mengungkapkan, penumpang ke Sikakap tak selalu ramai. Hanya hari tertentu kapal penuh dengan penumpang, seperti hari raya dan libur panjang.

Rizaldi menjelaskan, sepinya penumpang karena Sikakap bukanlah tujuan utama perdagangan atau wisata. Pusat keramaian yang kecil, hanya di sekitaran kantor Kecamatan Sikakap, serta jaraknya yang paling jauh dari Padang membuat jarang orang yang menjadikan Sikakap tujuan. “Kecamatan Sikakap bukan pusat dari Kabupaten Kepulauan Mentawai, warga di sana juga sedikit,” jelasnya.

Data dari Badan Pusat Statistik pada 2015 menyebut jumlah penduduk Sikakap mencapai 9.947 dengan luas wilayah 278,45 kilometer per segi. Dengan angka itu, per kilometer per seginya terdapat 35 jiwa menduduki wilayah Sikakap. Sikakap merupakan wilayah terpadat kedua di Kepulauan Mentawai.

Walau memiliki penduduk padat di Mentawai, namun jarak antar desa yang jauh serta dipisahkan hutan dan lautan membuat pusat kegiatan hanya di sekitaran pelabuhan saja. Sikakap juga menjadi kecamatan paling jauh dijangkau dari Padang, jaraknya sekitar 106 kilometer.

Kapal kami mulai merapat ke Pelabuhan Sikakap yang nampak sepi. Hanya masyarakat yang menjemput keluarga yang baru saja tiba dengan kapal cepat dari Padang. Selepas kapal itu kembali ke Padang pada pukul 13.00 WIB pun, pelabuhan kembali sepi.

"Masih perlu perjalanan lebih kurang 2 kilometer untuk sampai ke MAS Darul Ulum. Walau permukaan jalan sudah berbeton, jalur yang dilalui membelah hutan dan menyisir tepian pantai Sikakap," kata Apiko Joko Mulyono, Koordinator Global Zakat-ACT. []