Mulai Berzakat

Mengenal Pulau Pagai

1
  •   Date :  April 02, 2019
  •   Eko Ramdani
  •   Editor Dyah Sulistiowati
  •   Viewers :  23

ACTNews, KEPULAUAN MENTAWAI – Tak ada lalu lalang mobil pribadi. Hanya mobil bak yang jumlahnya dapat dihitung dengan jari sedang membawa muatan hasil bumi yang hendak dibawa ke Pasar Sikakap. Di tepian jalan utama Sikakap yang lebarnya tak sampai dua setengah meter, banyak terparkir motor milik warga, tak jarang membuat jalan tersendat saat dua mobil saling berhadapan untuk lewat.

Pada pekan ketiga Maret lalu, Global Zakat-Aksi Cepat Tanggap (ACT) sudah tiba di Desa Sikakap yang menjadi pusat keramaian dari Kecamatan Sikakap, Pulau Pagai Utara, yang masuk wilayah administrasi Kabupaten Kepulauan Mentawai. Desa itu juga menjadi pusat dan satu satunya keramaian di Pulau Pagai. Di sana, kami menyalurkan amanah zakat masyarakat Indonesia berupa paket pangan serta beasiswa ke siswa Madrasah Aliyah Swasta Darul Ulum melalui program Tepian Negeri.

Kepala Dusun Sikakap Timur Ismen Saputra menjelaskan, ditilik dari jumlah penduduk, Sikakap termasuk kecamatan yang padat. Akan tetapi, lokasi antardusun yang jauh dan terpisah hutan juga lautan serta sungai membuat pusat keramaian di Sikakap hanya ada di sekitaran Pelabuhan Sikakap saja. Di kawasan pelabuhan itu juga ada pasar, permukiman padat serta pusat pemerintahan kecamatan.

Sikakap, tambah Ismen, menjadi pusat keramaian untuk tiga kecamatan di Pulau Pagai, yaitu Kecamatan Pagai Selatan, Kecamatan Pagai Utara, dan Kecamatan Sikakap sendiri. Beberapa fasilitas penting berada di Sikakap, seperti pasar, pelabuhan untuk menuju Sumatra melalui Padang, puskesmas induk, kantor perwakilan instansi pemerintah dan lain sebagainya berada di Sikakap. “Sikakap ini menunjang untuk tiga kecamatan di Pulau Pagai,” jelas Ismen, Senin (25/3).

Pulau Pagai  juga masih menyimpan banyak dusun yang masih terisolir dari keramaian. Layanan listrik dari Perusahaan Listrik Negara belum mengaliri dusun-dusun yang hanya dapat ditempuh dengan trasportasi air. Bahkan di Desa Sikakap sendiri yang menjadi pusat keramaian, seluruh wilayah baru mendapatkan aliran listrik kurang dari setahun belakangan ini.

 

Dusun pedalaman

Pulau Pagai berada di paling utara Kabupaten Kepulauan Mentawai. Pulau itu terbagi dua, Pagai Utara dan Selatan. Di bagian barat, wilayah ini berbatasan langsung dengan selat yang memisahkan Mentawai dengan Sumatra. Sedangkan di bagian timur, membentang luas Samudra Hindia yang menyuguhkan ombak tinggi di Pantai Pagai yang menjadi favorit peselancar. Bahkan ombak Mentawai disebut terbaik kedua di dunia setelah Hawaii.

Di balik keindahan alamnya, Pagai masih menyimpan banyak dusun yang terisolir dari keramaian, khususnya Pagai Selatan. Terdapat puluhan dusun yang hanya dapat dicapai menggunakan transportasi air. Jika memaksakan diri melalui jalur darat, waktu tempuh akan sangat lama dengan medan yang lebih berat.

Dusun Tubeket, Desa Makalok, Kecamatan Pagai Selatan misalnya. Dusun yang menjadi asal sebagaian besar murid MAS Darul Ulum itu hanya dapat dicapai menggunakan perahu. Perjalanan dari Sikakap butuh waktu satu jam lamanya menyeberangi lautan, masuk ke muara dan terus menyusuri sungai Tubeket sampai di dermaga dusun.

Kepala Sekolah MAS Darul Ulum Iswandi mengatakan, Tubeket merupakan salah satu dusun pedalaman di samping dusun-dusun serupa di Kepulauan Mentawai, khususnya di Pagai. Masih banyak lagi dusun seperti Tubeket, bahkan kondisinya lebih memprihatinkan. Tak ada jaringan komunikasi, juga rumah-rumah yang belum teraliri listrik PLN. Fasilitas kesehatan serta pendidikan pun tak sampai di sana. “Mereka terisolir dari keramaian,” ungkapnya.

Walau begitu, warga dari berbagai penjuru Pagai, termasuk dusun pedalaman itu akan datang ke Sikakap saat hari pasar tiba. Hari pasar jatuh tiap Rabu beriringan dengan datang dan kembalinya kapal menuju Padang. Kapal itu membawa berbagai barang kebutuhan hiudp dari Padang dan akan kembali ke Padang dengan membawa muatan hasil bumi untuk dijual di Sumatra. “Cuma saat itu saja orang-orang dari pedalaman menggunakan sampan ke Sikakap, saat hari pasar, Sikakap ramai dengan warga dari berbagai sudut Pagai,” tambah Iswandi.

Bencana alam

Tsunami yang melanda Aceh pada 2004 silam, dampaknya juga dirasakan warga di Pulau Pagai. Ismen menuturkan, saat hari kejadian itu, air laut di selat Pagai surut secara mendadak. Lalu kemudian pasang secara tiba-tiba dengan tidak normal. “Waktu itu gelombang pasang mendadak setelah surut, pasangnya sampai sekitar 10 meter dari bibir pantai, itu tidak biasa, tapi beruntung tak ada kerusakan berarti atau bahkan korban jiwa,” kenang Ismen, Senin (25/3).

Setelah gelombang pasang akibat imbas tsunami besar di Aceh itu, pada 2005 Pagai juga dilanda gempa yang berpusat di Nias. Sedangkan masyarakat Pagai juga merasakan gempa magnitudo 7,6 saat mengguncang Padang, Sumatra Barat pada 2009 silam.

Namun, bencana paling besar yang berdampak terhadap masyarakat Pagai ialah gempa diiringi tsunami pada 25 Oktober 2010 silam. Gempa yang berpusat di lautan itu mengantarkan ombak yang menyapu apapun yang ada di bibir pantai Pagai. Yang terparah adalah bagian pantai barat Pulau Pagai. Gempa dan tsunami itu juga memutus jaringan telepon kabel hingga saat ini. “Sampai sekarang tak ada perbaikan jaringan telepon rumah (telepon kabel), sedangkan untuk mendapatkan sinyal telepon genggam sampai saat ini masih sangat sulit,” tambah Ismen.

Tsunami besar itu juga mengisolir berbagai dusun di pedalaman Pagai. Dari penuturan Ismen, ada beberapa desa di Pagai Selatan yang sulit terjangkau untuk dikirimkan bantuan. “Saat itu solusinya bantuan dilempar dari pesawat di atas desa terdampak,” kata Ismen yang merupakan pendatang dari Padang itu.

Sampai saat ini, masih banyak dusun di Pulau Pagai yang terisolir dari keramaian dan kemajuan teknologi. Aliran listrik yang belum sampai, fasilitas kesehatan hingga sekolah dengan bangunan memprihatinkan serta tak adanya tenaga pengajar menjadi pemandangan lumrah di Pagai, terlebih Kecamatan Pagai Selatan. []

Baca juga:

Menuju Sikakap di Ujung Mentawai