Mulai Berzakat

Menelusuri Jejak Kemanusiaan di Pulau Pagai

1
  •   Date :  April 04, 2019
  •   Eko Ramdani
  •   Editor Dyah Sulistiowati
  •   Viewers :  47

ACTNews, KEPULAUAN MENTAWAI – Gempa berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang perairan di lepas pantai Sumatra, tepatnya Samudra Hindia atau sebelah timur Kepulauan Mentawai pada 25 Oktober 2010 silam. Tak berselang lama, ombak tsunami datang. Ombak besar itu meratakan apapun yang ada di tepian pantai, termasuk pesisir Pagai, pesisir terbaik kedua di dunia untuk olahraga selancar. Pulau Pagai Utara dan Selatan menjadi lokasi paling parah terdampak tsunami, mereka terisolir.

Dua pulau itu saling berhadapan, hanya ada selat kecil yang memisahkan. Pusat keramaian ada di Pagai Utara. Di sana tersedia Pelabuhan Sikakap, tempat bersandar kapal tujuan Padang yang saat ini hanya berlayar tiga kali dalam sepekan. Sedangkan dusun pedalaman, yang hanya dapat diakses memalui jalur air atau darat dengan medan berat, masih mendominasi Pagai Selatan.

Saat tsunami menerjang, pulau yang sampai sekarang masih menyimpan puluhan dusun pedalaman itu terisolir. Komunikasi terputus total. Akses menuju lokasi hanya bisa terjangkau melalui jalur laut.

Di tahun itu juga, kami (ACT) hadir di Mentawai, khususnya di Kecamatan Sikakap, Pagai Utara dan Selatan. Pertolongan untuk korban bencana datang. Puluhan relawan dikerahkan guna mengevakuasi korban serta pendistribusian bantuan. Bahkan, sampai waktu pemulihan, pendampingan terus diberikan.

Sampai saat ini masih dapat ditemukan beberapa rumah yang dahulu rusak dan diperbaiki oleh Tim Pemulihan ACT. Rumah Rosiana misalnya, warga Dusun Tubeket, Desa Makalok, Kecamatan Pagai Selatan. Rumah di salah satu dusun pedalaman itu masih kokoh berdiri.

Enam tahun berselang pascagempa dan tsunami Mentawai, pendampingan warga pulau yang masuk provinsi Sumatra Barat itu berlanjut. Pada awal 2016, dua kelas sebagai cikal-bakal Madrasah Aliyah Swasta (MAS) Darul Ulum Sikakap dibangun. Sampai saat ini, ruang kelas itu masih digunakan sebagai bangunan utama madrasah yang menjadi satu-satunya sekolah tingkat atas berbasis keislaman di Pagai.

Iswandi selaku Kepala Sekolah MAS Darul Ulum mengaku bersyukur atas kehadiran tim kami yang berkelanjutan sejak pascagempa dan tsunami tahun 2010 itu, khususnya Sikakap. Terlebih saat hari raya Idul Adha, Sikakap menjadi salah satu tempat pendistribusian hewan kurban dari Global Qurban-ACT. “Di tahun yang sama  dengan pembangunan dua kelas itu, juga hadir sumur wakaf dari Global Wakaf,” tutur Iswandi, Senin (25/3).

Kondisi MAS Darul Ulum

Kepala Dusun Sikakap Timur Ismen Saputra menuturkan, rata-rata pendidikan masyarakat Sikakap sudah sampai tamat sekolah menengah atas. Fasilitas pendidikan di Kecamatan Sikakap tergolong lengkap, ada dari sekolah dasar hingga menengah atas bahkan sekolah kejuruan. Akan tetapi, untuk wilayah lain seperti Pagai Utara dan Selatan, masyarakat masih kesulitan untuk akses fasilitas pendidikan, khususnya sekolah berbasis keislaman.

Bagi masyarakat yang ingin menyekolahkan anaknya di sekolah Islam, masyarakat di Pulau Pagai harus merelakan anaknya merantau ke Sikakap. “Di Pagai, hanya di sini (Sikakap) ada sekolah Islam, itu pun hanya satu per jenjang,” tutur Ismen, Senin (25/3).

Di Pagai, MAS Darul Ulum merupakan satu-satunya sekolah menengah berbasis Islam. Sekolah ini pun baru dua tahun berdiri. Sebelum ada sekolah ini, anak Pagai yang hendak melanjutkan sekolah menengah hanya bisa di SMA yang ada di Pagai Selatan.

Kepala Sekolah MAS Darul Ulum menjelaskan, sekolahnya sampai saat ini baru ada dua angkatan. Mereka merupakan siswa yang memiliki tempat tinggal di luar Sikakap. “Anak-anak berasal dari dusun-dusun muslim di pedalaman Pagai. Di tempat tinggal mereka tak ada fasilitas sekolah yang memadai,” ungkap Iswandi, Senin (25/3).

Iswandi menambahkan, anak dari Dusun Tubeket, Desa Makalok, Pagai Selatan yang paling banyak bersekolah di MAS Darul Ulum. Di Tubeket, tersedia madrasah ibtidaiyah. Namun, mereka hanya melayani sampai kelas 3. Jika anak-anak ingin melanjutkan sekolah Islam, mereka harus merantau ke Sikakap yang jaraknya ditempuh lebih kurang satu jam perjalanan dengan kapal menyusuri sungai dan lautan.

Di Darul Ulum, setiap siswanya diminta iuran per bulan dengan nominal antara 30 ribu-100 ribu rupiah. Akan tetapi, semua murid yang berjumlah 24 orang datang dari keluarga kurang mampu, membuat pihak sekolah tak melakukan pemaksaan untuk pembayaran itu. “Sekolah ini lahir untuk memberikan pendidikan Islam yang menjadi minoritas di sini,” tambah Iswandi.

Kini, MAS Darul Ulum siap menerima murid baru di tahun ajar 2019 ini. Akan tetapi, ruang kelas serta tenaga pengajar yang masih minim menjadi permasalahan. MAS Darul Ulum memiliki 10 guru untuk mengajar 24 murid. Delapan orang di antara mereka berasal dari Pagai, sedangkan dua orang lain yang juga menjadi pembina berasal dari luar Mentawai. Mereka mengabdikan diri di sana dengan gaji sekitar 600 ribu per bulan. Bahkan, dalam dua bulan terakhir ini gaji mereka belum turun lantaran perekonomian sekolah yang sedang sulit.

Dua hari sebelumnya, yakni Sabtu (23/3), puluhan siswa dan guru MAS Darul Ulum menerima paket pangan, hasil penyaluran dana zakat masyarakat Indonesia melalui Global Zakat-ACT. Selain paket pangan, beasiswa juga diberikan kepada siswa yang sangat membutuhkan di sekolah tersebut. []

Baca juga:

Mengenal Pulau Pagai

Menuju Sikakap di Ujung Mentawai

Kebaikan Global Zakat-ACT Menyapa Siswa di Pedalaman Mentawai