Mulai Berzakat

Melewati Batas Dua Negara

Melewati Batas Dua Negara
  •   Date :  June 17, 2018
  •   Dyah Sulistiowati
  •   Editor
  •   Viewers :  80

ACTNews, SANGGAU - Kehidupan di tapal batas punya keunikan tersendiri. Bayangan bisa bergerak melewati batas dua negara dalam waktu singkat tentu memenuhi isi kepala, khususnya bagi mereka yang hidup di wilayah non-perbatasan. Bagi Dayang Zahra (53), segala hal yang berbau perbatasan adalah hal yang biasa. Apalagi soal melewati batas dua negara, hal tersebut sudah menjadi rutinitas dirinya selama lebih dari separuh abad.

“Kalau ke Malaysia saya sudah sering, seperti belanja ke pasar saja,” ungkap Dayang Zahra, yang akrab disapa sebagai Dara.

Seumur hidupnya, Dara dan keluarganya tinggal di Desa Entikong, Kabupaten Sanggau. Desa ini membatasi Kalimantan Barat, Indonesia, dengan Serawak, Malaysia. Sama seperti sepertiga warga Desa Entikong lainnya, Dara mencari nafkah di negara tetangga tersebut. Batas Indonesia-Malaysia ia lewati setiap bulannya dengan berbekal sebuah paspor. Dara pergi untuk bekerja dan pulang kembali untuk menyapa keluarga.

 

“Tidak jauh, kalau naik bis hanya setengah jam dari Entikong ke Serian,” kata Dara.

Meski bekerja di luar negeri, ungkap Dara, pekerjaannya bukanlah pekerjaan yang prestisius. Rumah dinasnya adalah warung kopi sederhana yang terletak di kota Serian, Serawak, Malaysia. Warung kopi tersebut adalah milik keluarganya yang menetap di Malaysia. Setiap hari Dara membantu menjaga warung kopi tersebut dan melayani pelanggan yang membeli kopi dan minuman lainnya. 

“Ya alhamdulillah, sehari dibayar 20 ringgit (sekitar 70 ribu rupiah). Saya kumpulkan, untuk biaya hidup keluarga di Entikong. Kadang juga dibantu hasil kerja anak satu-satunya yang kerja di perbatasan jadi tukang angkut barang. Pas-pasan lah,” tutur Dara, janda beranak satu. Di Entikong, ia hidup bersama anak lelakinya beserta menantu dan satu cucunya di sebuah rumah panggung kayu.

 

Saat itu adalah akhir pekan kedua Juni, atau pekan ketiga Ramadan. Dara baru seminggu pulang dari Serian, Malaysia. Ia sengaja pulang lebih cepat untuk menghabiskan akhir Ramadan dan hari raya Idulfitri bersama keluarga kecilnya. 

Yang tidak ia sangka, kepulangannya juga disambut paket besar berisi bahan pangan pokok. Ia menjadi salah satu penerima Paket Pangan Ramadan untuk Masyarakat Penjaga Negeri (PPR-MPN), amanah zakat masyarakat Indonesia yang disalurkan melalui Global Zakat-Aksi Cepat Tanggap.

“Ada beras, minyak, gula, sama biskuit ya. Alhamdulillah, mau Lebaran dapat paket sembako ini. Terima kasih banyak ya. Kadang di Malaysia juga suka dapat, tapi tahun ini tidak dapat. Di Entikong sendiri, baru ada pembagian paket sembako macam ini sebelum Lebaran,” ungkap Dara.

 

Sinergi dengan TNI AD

Desa Entikong, Kabupaten Sanggau, merupakan salah satu wilayah target distribusi PPR-MPN di Kalimantan Barat. Di provinsi ini, PPR-MPN juga menyasar dua kabupaten perbatasan lainnya, yakni Sambas dan Bengkayang. Secara total, ada 2.000 paket pangan Ramadan yang didistribusikan di tiga kabupaten tersebut.

Selama pendistribusiannya, ACT bersinergi dengan Satgas TNI AD yang menjaga wilayah perbatasan Kalimantan Barat dengan Serawak, Malaysia. Komandan Batalyon 511 Letkol Inf. Jadi, S.P.I menyambut positif kegiatan tersebut. Menurutnya, aksi PPR-MPN sesuai dengan nawacita presiden Indonesia, yaitu membangun bangsa dari wilayah perbatasan.

“Artinya di daerah perbatasan benar-benar harus disentuh oleh seluruh elemen dan seluruh komponen dan instansi pemerintahan. Kegiatan ini sangat positif dan bisa menyentuh masyarakat. Mudah-mudahan kegiatan seperti ini tetap dilakukan setiap tahunnya sehingga masyarakat bisa menikmati dan merayakan Idulfitri di wilayah perbatasan dengan baik. Terima kasih untuk ACT mudah-mudahan sehat dan sukses selalu untuk tim ACT,” ungkap Letkol Inf. Jadi.

 

Cinta Indonesia

Sebagian besar keluarga Dara menetap di berbagai wilayah di Malaysia. Namun demikian, Dara memilih merayakan Idulfitri kali ini di Entikong bersama keluarga kecilnya.  

“Gantian, biasanya saya Lebaran di sana,” kata Dara.

Beberapa tahun belakangan ini, kehidupannya memang nomaden, yakni pergi dan pulang Malaysia-Indonesia. Hal yang menurutnya umum bagi masyarakat perbatasan. Meski kini Dara makin akrab dengan bumi Malaysia, ia mengaku tidak ada keinginan untuk pindah kewarganegaraan.

 

“Orang tanya kenapa saya tidak tinggal saja di Malaysia, jadi warga negara sana. Keluarga juga banyak di sana, saya kerja di sana. Almarhumah bibi pun pernah menawarkan saya untuk pindah warga negara. Tapi saya tidak mau. Saya sudah terlanjur cinta dengan Indonesia. Ke Malaysia cuma untuk bekerja,” ungkap Dara, yang belum pernah menjelajah luas wilayah-wilayah Indonesia, termasuk Pontianak, ibu kota Kalbar.

Idulfitri ini, Dara bersyukur bisa merayakannya di kampung halaman, bersama anak, menantu, dan satu cucunya. Sambil menutup kembali paket PPR-MPN yang dibukanya, ia berkata, “Lebaran ini mau masak lemang, sama nasi dan lauk-pauk biasa.” 

Senyumnya menggambarkan kesederhanaan penyambutan Idulfitri di perbatasan. []