Mulai Berzakat

Lansia Prasejahtera di Lampung Kembali Nikmati Berkah Zakat

Lansia Prasejahtera di Lampung Kembali Nikmati Berkah Zakat
  •   Date :  November 05, 2018
  •   Hermawan Wahyu Saputra
  •   Editor Dyah Sulistiowati
  •   Viewers :  37

ACTNews, BANDAR LAMPUNG - Tim Global Zakat - ACT Lampung kembali bersilaturahmi dengan para lansia prasejahtera yang ada di Kota Bandar Lampung. Setelah di kesempatan sebelumnya tim bertandang ke Kampung Sinar Laut, kini giliran Kampung Teluk Harapan dan Kampung Rawa Laut di Kecamatan Panjang yang disambangi.

Gerimis menyambut ketika memasuki jalan menuju Kampung Teluk Harapan dan Rawa Laut, Kelurahan Panjang Selatan, Kota Bandar Lampung. Jumat (2/11) siang itu, deretan kafe dan tempat karaoke seakan memberitahu bahwa denyut kehidupan penduduknya masih ada, terutama ketika senja tiba. Begitu matahari tenggelam, ornamen lampu warna-warni hidup memberi pendar. Sementara dentuman musik akan menyambut siapa saja yang mampir di lokasi ini.

Dua kampung juga menjadi lalu lintas warga yang akan memancing. Ada dua dermaga yang digunakan untuk kapal melepaskan sauhnya. Bahkan kapal-kapal tersebut digunakan untuk antar jemput awak kapal tongkang yang tak bisa merapat karena dangkalnya pantai.

Aroma air laut mulai terasa ketika melewati gang sempit Kampung Rawa Laut. Tim Global Zakat - ACT Lampung menemui Supardi (73), warga yang sehari-harinya bekerja mengumpulkan sampah plastik. Tak peduli dengan terik matahari yang menyengat kulit, Supardi rutin memungut sampah plastik di pinggir pantai untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Sampah plastik yang ia kumpulkan lantas dibersihkan dan dijual kembali. Dalam sehari, Supardi hanya mampu mengumpulkan 5 kg sampah. Lima kilogram sampah tersebut bernilai Rp 20 ribu. Dengan kata lain, setiap harinya Supardi mengantongkan Rp 20 ribu untuk menghidupi dirinya dan dua cucunya. Salah satunya Sela (12), yang telah menjadi yatim piatu sejak kecil.

“Orang tuanya sudah wafat. Kalau Sela sekarang bersekolah di pesantren dekat sini yang biayanya terjangkau,” terang Supardi.

Pada silaturahmi siang itu, tim turut membawa paket makan siap santap untuk Supardi. Panganan berupa nasi, pecel lele, lalapan, dan sambal ini merupakan penyaluran dana zakat dari masyarakat Indonesia untuk para lansia di Lampung. Pemberian paket pangan siap santap itu pun bagian dari rangkaian penyaluran zakat yang sebelumnya juga pernah dilaksanakan, yakni pemberian paket nutrisi untuk lansia di Kampung Sinar Laut.

Supardi tak menyangka, silaturahmi dari saudara jauh kala itu berbuah rezeki. Sederhana nampaknya, namun ia amat bersyukur dengan paket pangan yang ia terima.

Pada momen silaturahmi kala itu, tim juga bertemu dengan Mbah Nurmadi (63), yang tinggal di rumah papan sempit. Nurmadi lantas dengan santai menceritakan pengalamannya menjadi tukang becak yang tak terlupakan.

Menggantungkan nafkah dengan mengayuh becak menurutnya bukanlah hal yang mudah. Meski sudah bertaruh otot, pekerjaanya tak membuahkan hasil yang signifikan. Akhirnya Nurmadi banting setir menjadi peternak kambing sejak 2004.

Berbekal modal sepasang kambing dari orang yang dikenalnya, kini Mbah Nurmadi menggantungkan hidup dari bagi hasil kambing peliharaannya. Pendapatannya pas-pasan, namun ia tetap semangat menafkahi dirinya yang kini tinggal sendiri di rumah papan kecil itu.

“Anak saya sudah berkeluarga tinggal jauh dari sini. Istri saya sudah meninggal dunia tahun 2000. Setiap hari ngarit, cari rumput kira-kira sejam pulang pergi dari sini. Tapi Mbah bersyukur semoga panjang umur semua. Makanan ini saya terima, terima kasih ya,” ucapnya sambil terisak saat menerima paken pangan siap santap.

Hidup dalam keterbatasan di usia senja nyatanya juga dialami Mbah Sri Maryamah (69), salah satu warga Kampung Rawa Laut. Bertahan hidup di rumah papan tepat pinggir pantai Teluk Harapan, Mbak Sri hanya menggantungkan hidup dari berjualan di toko kelontong kecil-kecilan. Itu pun sepi pembeli.

 

Cuaca panas membuatnya hanya termangu di sofa usang yang menghiasi teras rumahnya. Debur ombak sayup-sayup terdengar ketika Mbah Sri memulai obrolan siang itu. Katanya, seharian itu, ia hanya makan nasi dan sayur nangka sejak pagi. Keras dan hambar, begitu Mbah Sri menjelaskan rasa sayur nangka yang ia makan.

Begitu ia menerima paket pangan yang dibawa tim Global Zakat - ACT Lampung, Mbah Sri gembira bukan main. Tawanya sumringah, sambil bersemangat membuka paket pangan itu. Suapan demi suapan nasi pecel lele lahap ia kunyah.

“Alhamdulillah ada yang nganter makanan. Mbah ini tak ada yang perhatian lagi. Mbah hanya bisa pasrah,” ucapnya selepas menyantap nasi pecel lele. Air mata menetes begitu saja dari kedua sudut matanya.

Menyantap nasi pecel lele bisa jadi hal yang biasa bagi mereka yang berpunya. Namun, di pinggiran Kota Bandar Lampung, nasi pecel lele menjadi santapan yang begitu nikmat bagi para lansia yang menjalani hari senja mereka dalam keterbatasan.

Insya Allah, Global Zakat - ACT Lampung akan senantiasa menyapa warga Lampung yang membutuhkan lainnya, membawa berkah zakat untuk mereka. []