Mulai Berzakat

Kepedulian Indonesia Penuhi Kebutuhan Gizi Anak Palestina

1
  •   Date :  February 12, 2019
  •   Eko Ramdani
  •   Editor Dyah Sulistiowati
  •   Viewers :  176

ACTNews, GAZA - Krisis kemanusiaan di Tanah Palestina terus berlangsung hingga kini. Blokade berbagai akses vital oleh Israel makin melumpuhkan perekonomian sipil Palestina, sehingga berdampak pada kesulitan pemenuhan kebutuhan pokok seperti pangan.

Kasus minimnya ketahanan pangan di Palestina belakangan mencuat dan berdampak pada anak-anak Palestina usia sekolah. Awal Februari lalu, Zaher Al-Banna dari selaku Kepala Dewan Orang Tua di sekolah organisasi PBB untuk pengungsi Palestina (UNRWA) mengatakan, banyak siswa di sekolah-sekolah Palestina yang melewatkan sarapan sebelum berangkat ke sekolah. Hal ini dikarenakan keterbatasan finansial keluarga mereka, sebagai akibat dari blokade Israel yang berkepanjangan.

Buntut dari peristiwa tersebut adalah banyaknya siswa kekurangan gizi, anemia, pusing, dan pingsan saat di sekolah. Lebih lanjut, Zaher menambahkan, kasus akibat anak-anak tidak makan sebelum sekolah ini mengurangi kesanggupan mereka untuk menyerap pelajaran. “Potensi besar malnutrisi dapat terjadi di kalangan anak-anak di Palestina, khususnya Gaza,” ujar Zaher.

Masalah kebutuhan pangan anak-anak Palestina pun tak luput dari perhatian masyarakat Indonesia. Secara berkelanjutan, bangsa Indonesia melalui ACT menyediakan santapan penuh gizi untuk warga Palestina, baik yang berada di Gaza maupun Yerusalem. Sekitar 500-1000 porsi makanan siap santap terus diproduksi setiap harinya di Dapur Umum Indonesia di Gaza. Hal ini disampaikan oleh Andi Noor Faradiba dari Tim Global Humanity Response (GHR) - ACT.

 “Setiap hari 500 porsi didistribusikan ke sekolah. Sabtu (9/2), 500 porsi makanan siap santap diantarkan ke sekolah Al-Horriya di di Kota Gaza.  InsyaAllah pendistribusian panganan siap santap ini akan terus berlanjut,” jelasnya. Pendistribusian 500 porsi pangan kala itu merupakan implementasi zakat masyarakat Indonesia melalui Global Zakat - ACT, yang ditujukan untuk fakir dan miskin di Palestina.

Faradiba menambahkan, pembagian panganan bergizi tersebut juga sebagai respons terhadap maraknya kasus malnutrisi di kalangan siswa di Gaza. Ratusan porsi itu dibagikan ke anak usia sekolah dasar hingga menengah di dalam kelas mereka. “Dengan adanya makanan bergizi ini diharapkan dapat memenuhi kebutuhan gizi mereka,” kata Faradiba.

Tingkat pengangguran tinggi

Zaher, seperti dikutip dari Paltoday menjelaskan, peringatan malnutrisi pada anak-anak ini seiring dengan semakin lesunya perekonomian di Palestina. Angka pengangguran yang tinggi menjadi penghalang untuk orang tua memenuhi kebutuhan nutrisi anaknya.

Biro Statistik Pusat Palestina seperti dilansir dari Middle East Post mengatakan, angka pengangguran di Palestina meningkat setiap tahunnya. Peningkatan ini terlihat jelas dalam kurun waktu 2007-2017. “Rentan usia pengangguran di Palestina umur 15-29 tahun pada 2007 berada di angka 30,7 persen, dan 2017 naik menjadi 41 persen,” ungkap perwakilan Biro Statistik Pusat Palestina.

Dirinci, wilayah Jalur Gaza memiliki peningkatan tercepat dalam urusan jumlah pengangguran. Tahun 2007 persentase pengangguran di angka 39,8 persen dan melejit menjadi 61,2 persen pada 2017. Melonjaknya angka pengangguran ini besar disebabkan tutupnya 95 persen pabrik di Gaza.

Tutupnya pabrik di Gaza ini, jelas Ketua Asosiasi Pengusaha Palestina Ali Al-Hayek dikutip dari Middle East Post, menyebabkan 75 ribu orang kehilangan pekerjaan. Penutupan ini akibat adanya blokade Israel terhadap wilayah Palestina. “Ekonomi Palestina kini dalam fase berbahaya akibat blokade Israel,” kata Ali.

Di wilayah lain di Palestina, tepatnya Tepi Barat, peningkatan pengangguran juga meningkat dalam kurun waktu 10 tahun dari 2007-2017. Tahun 2007 silam angka pengangguran 25,6 persen dan meningkat 1,6 persen pada 2017. []