Mulai Berzakat

Izin Rampung, Beras 2.000 Ton untuk Rohingya Tiba di Cox’s Bazar

Izin Rampung, Beras 2.000 Ton untuk Rohingya Tiba di Cox’s Bazar
  •   Date :  November 13, 2017
  •   Shulhan Syamsur Rijal
  •   Editor
  •   Viewers :  15

ACTNews, COX'S BAZAR - Butuh lebih dari 12 jam perjalanan, melintasi kemacetan luar biasa Kota Pelabuhan Chittagong menuju ke tujuan akhir di Distrik Cox’s Bazar, sebuah distrik setara kabupaten, tempat penampungan lebih dari sejuta pengungsi Rohingya. Perjalanan molor menjadi belasan jam, padahal jarak yang harus ditempuh hanya sekira 144 kilometer melintasi jalur utama penghubung Chittagong dan Cox’s Bazar.

Namun wajar, jika durasi perjalanan menjadi lebih lama, sebab perjalanan malam hari itu ditempuh oleh konvoi puluhan truk besar yang mengangkut belasan ribu karung beras dari Indonesia.

Sabtu (11/11) malam kemarin, atau malam Ahad waktu Bangladesh, total ada 21 truk yang menggilas aspal. Truk berjalan konvoi dari pelabuhan Chittagong menuju ke gudang milik pemerintah Distrik Cox’s Bazar.

Ya, untuk pertama kalinya, setelah melalui proses panjang mengurus izin masuk bantuan kemanusiaan dari Indonesia, akhirnya 2.000 ton beras yang diboyong dari Terminal Petikemas Surabaya itu berhasil tiba di Distrik Cox’s Bazar.

Ahad (12/11) pagi, gembok-gembok khusus yang dikunci sejak dari Pelabuhan Chittagong itu pun dibuka. Satu per satu dari 21 truk berisi beras dari masyarakat Indonesia diturunkan ke dalam gudang. Jika ditotal, 21 truk yang datang di tahap pertama ke Cox’s Bazar, menampung 15.066 karung beras atau setara dengan 376,65 ton.

Direktur Global Humanity Response Aksi Cepat Tanggap (ACT) Bambang Triyono melaporkan langsung dari Cox’s Bazar tentang proses bongkar muat bantuan beras Indonesia. Bambang mengatakan, untuk seluruh 2.000 ton beras yang diboyong dari Chittagong, butuh kurang lebih 80 truk yang bertolak dari Pelabuhan Chittagong.

“Sabtu malam kemarin sudah tiba 20 truk, artinya sampai tiga hari berikutnya Insya Allah akan masuk 20 truk lagi per hari bergiliran ke gudang Cox’s Bazar. Seluruh pengiriman 2.000 ton beras membutuhkan empat hari proses dari Pelabuhan Chittagong menuju ke Cox’s Bazar,” ungkap Bambang.

Jalan panjang administrasi bantuan beras untuk Rohingya

Memboyong 2.000 ton beras amanah dari Indonesia sampai ke Cox’s Bazar di Bangladesh, rupanya bukan urusan sederhana. Ada berbagai macam proses izin dan administrasi legal yang harus diurus ke Pemerintah Bangladesh.

“Amanah masyarakat Indonesia untuk Rohingya diterima dengan baik oleh pemerintah Bangladesh, tapi memang harus ada administrasi legal dengan proses yang panjang, cukup memakan waktu. Beras sempat tertahan cukup lama di Pelabuhan Chittagong,” kisah Insan Nurrahman selaku Vice President ACT. Baru sepekan terakhir Insan kembali ke Jakarta, setelah hampir sebulan memimpin Tim SOS Rohingya ACT tuntaskan urusan administrasi beras dari Indonesia untuk Rohingya.

Jika dirunut dari awal perjalanannya, tanggal 21 September lalu 2.000 ton beras yang diangkut lewat Kapal Kemanusiaan untuk Rohingya berlayar dari Terminal Petikemas Surabaya. Kemudian tiga pekan berikutnya, atau tepat tanggal 12 Oktober kapal merapat di Pelabuhan Chittagong. Tapi, merapatnya kapal bukan berarti urusan selesai.

“Sejak tanggal 12 Oktober itu, proses administrasi yang rupanya tak mudah terus diikhtiarkan oleh Tim SOS Rohingya ACT. Proses panjang diusahakan sepanjang hari langsung dari Chittagong sampai ke pemerintahan tingkat distrik di Cox’s Bazar. Alhamdulillah pada akhirnya beras bisa diterima di gudang milik pemerintahan Cox’s Bazar ini,” kisah Insan.

Distribusi beras untuk pengungsi Rohingya dilakukan pemerintah Cox’s Bazar

Usai semua izin distribusi bantuan rampung, Pemerintah Cox’s Bazar segera menyiapkan dua gudang khusus, untuk menampung 2.000 ton bantuan beras dari Indonesia. Dari video yang direkam langsung di gudang milik pemerintah setempat, tampak jejeran puluhan ribu karung-karung beras dari Indonesia itu ditata rapi di dalam gudang.

Bambang Triyono mengatakan, nantinya setelah semua beras total 80.000 karung atau setara 2.000 ton selesai ditempatkan di gudang, semua distribusi bakal diatur kembali oleh pemerintah setempat.

“Menurut regulasi yang ada di Bangladesh, setelah tiba di Bangladesh, usai semua izin administrasi rampung, beras bantuan ini pada akhirnya akan berada dalam pengawasan pemerintah. Insya Allah, mitra ACT di Cox’s Bazar pun akan ikut mengawal proses distribusi beras sampai ke titik-titik pengungsian Rohngya,” jelas Bambang.

Berdasarkan data terakhir yang dihimpun dari Inter Sector Coordination Group (ISCG) per tanggal 12 November 2017, jumlah pengungsi Rohingya yang menyesak di Cox’s Bazar telah mencapai 828.000 jiwa pengungsi.

Dari jumlah tersebut, sekira 615.000 jiwa pengungsi baru datang setelah konflik terakhir membubung di Rakhine State, Myanmar, tanggal 25 Agustus silam. []