Mulai Berzakat

Hadirkan Layanan Kesehatan di Perbukitan Kampung Mulyasari

Hadirkan Layanan Kesehatan di Perbukitan Kampung Mulyasari
  •   Date :  April 03, 2019
  •   Reza Mardhani
  •   Editor Dyah Sulistiowati
  •   Viewers :  28

ACTNewsBOGOR - Menyusuri jalan setapak yang berbatu, Global Zakat-ACT bersama Masyarakat Relawan Indonesia (MRI) menuju sebuah kampung yang berada di puncak perbukitan. Pelayanan Kesehatan Berkala dari Global Zakat-ACT kala itu akan menyapa warga Kabupaten Bogor yang jauh bermukim di wilayah perbukitan.

Berkali-kali tanjakan tajam ditemui, terkadang disertai lubang. Sesekali terpaksa kami menerobos semak dan memotong jalan dengan harapan cepat tiba. Belum tambahan cuaca yang menyengat, kala itu pagi sudah agak naik menuju siang.

“Itu kampungnya sudah kelihatan,” kata seorang relawan seraya menunjuk ke sekumpulan rumah di puncak gunung.

 

‘Selamat Datang di Kampung Mulyasari’, begitu tulisan terpampang di gapura desa. Mamat selaku Ketua RT setempat, menyambut kami dengan ramah. Ia lalu mempersilakan kami beristirahat. Bersama Ustaz Solihin, tokoh masyarakat kampung, Mamat mengajak warga beramai-ramai menghadiri acara pelayanan kesehatan yang diadakan di Gedung SD Mulyasari 2 di Kampung yang berlokasi di Kecamatan Sukamakmur, Kabupaten Bogor tersebut.

Warga yang menghadiri kegiatan itu cukup banyak, yakni 135 orang. Demikian menurut Ardi selaku Koordinator Pelayanan Kesehatan Berkala di Kampung Mulyasari. Kebanyakan warga yang memeriksakan kesehatannya, mengeluh gatal-gatal, batuk, dan flu.

 

Salah satu dokter yang bertugas, Aris menyatakan, banyak pasien menderita penyakit yang sama dikarenakan penyakit tersebut mudah menular, terutama ketika seseorang berbagi handuk dan kasur yang sama dengan penderita.

“Terutama yang paling sering menjangkit masyarakat disini ialah scabies, atau yang bisa kita sebut gudikan. Penyakit yang disebut gudikan itu bisa disebabkan karena tungau-tungau kasur.” jelas dr. Aris.

 

Akses jalan sulit

Jarak memang menjadi masalah di Kampung Mulyasari. Untuk menuju kampung ini, siapa pun harus berjalan kaki atau naik kendaraan bermotor sekitar tiga kilometer dari jalan raya. Sedangkan jalurnya sendiri adalah jalur mendaki dan terkadang curam.

“Walaupun sekarang jalan sedang dibangun, tapi (jalan) belum bisa diakses. Saya juga belum bisa memastikan. Kemungkinan beberapa tahun lagi.” terang Mamat, Sabtu (23/4).

Akses jalan yang demikian akhirnya berdampak pada kehidupan di kampung itu. Solihin menggambarkan bahwa akses tersebut cukup berdampak pada kondisi ekonomi warga.

“Jadi hasil bumi ini ibaratnya habis di ongkos angkut. Bantuan logistik alhamdulillah sudah masuk, cuma memang kendala utama kampung ini memang saat ini ada di akses,” ujar Solihin. Kondisi jalan itu pula yang kemudian menyulitkan akses kesehatan di Kampung Mulyasari.

Beruntung kondisi gawat belum pernah terjadi di kampung yang dihuni 61 kepala keluarga tersebut. Mamat dan Solihin menyatakan hal yang sama. Menurut mereka, selama ini kondisi kesehatan masih dapat tertangani dengan baik, meskipun puskesmas  jauh berada di bawah bukit.

“Petugas puskesmas sebulan sekali ke desa ini untuk mengecek kesehatan warga. Karena di sini belum ada posyandu dan puskesmas. Kalau ada yang sakit parah, ya kita tandu lalu dibawa ke bawah (puskesmas). Kalau di puskesmas sudah tidak sanggup, kita rujuk ke tempat lain lagi,” cerita Solihin.

 

Hal yang sama berlaku juga untuk persalinan. Selama ini warga Desa Sukamulya masih banyak yang menggunakan jasa dukun beranak. Tetapi bila memang dukun beranak tidak sanggup, mereka akan membawanya ke puskesmas yang sama.

Dengan adanya Pelayanan Kesehatan Berkala, Solihin mengaku sangat berterima kasih. “Ini sangat membantu, insyaallah warga sangat antusias. Semoga kebaikan teman-teman yang luar biasa ini dibalas Tuhan,” pungkas Solihin. []