Mulai Berzakat

'Gerimis Hati' dari Pulau Simeulue, Batas Tepian Negeri Aceh

tepian negeri Aceh
  •   Date :  June 24, 2017
  •   Laila Khalidah
  •   Editor Muhajir Arif Rahmani
  •   Viewers :  133

ACTNews, SIMUELUE - Ada jenis perjalanan, yang ketika kita selesai menjalaninya, maka kita akan merasakan bukanlah kita yang sebelumnya. Begitulah yang kami rasakan sepanjang perjalanan mengantar Paket Pangan Ramadhan Tepian Negeri, ke Kabupaten Simeulue, Kabupaten yang termasuk tepian negeri di Aceh. Satu tujuan perjalanan yang harus ditempuh melalui jalur udara, darat, hingga laut di waktu yang berurutan, membuat kami menemukan banyak sekali hikmah di balik perjalanan tersebut.

Dimulai dari perjalanan udara dari Banda Aceh, pada Kamis pagi (15/6), menuju Simeulue via Bandara Kualanamu Medan, tim akhirnya tiba di Bandara Simeulue menjelang Ashar. Nyaris setengah jam perjalanan menuju tempat istirahat dengan didampingi relawan lokal, aksi pembagian paket pertama dimulai hari itu juga selepas Ashar.

Tim bergerak ke Dusun Mulia, Desa Linggi Kecamatan Simeulue Timur, dengan jarak tempuh sekitar dua puluh menit. Puluhan warga yang telah berkumpul di Masjid dan telah menunggu segera bersiap menyambut tim yang datang.

Mengharukan sekaligus membahagiakan, begitulah kesan kami saat melakukan aksi di hari pertama ini. Aksi yang dimulai dengan seremonial kecil dari para Tetua Desa dan warganya, membuat rasa lelah kami selama perjalan hilang begitu saja. Selain itu tim relawan lokal yang mendampingi kami, sangat membudahkan kami menjembatani komunikasi kami dengan warga.

Ketika aksi berlangsung,  Puluhan warga pun menerima dengan gembira paket pangan yang berisi beras, minyak, gula pasir, susu, teh, juga ikan kaleng ini, membuat kami seolah merasakan energi semangat, meski baru saja tiba dari perjalanan yang lumayan menyita tenaga dibulan Ramadhan begini. Berulang kali kami menyambut salam warga yang mengucapkan terimakasih, rasanya membuat nuansa Ramadhan kian istimewa. Terlebih waktu itu sudah kian dekat menjelang waktu berbuka.

Setelah aksi dititik pertama ini, tim segera kembali ketempat istirahat untuk bersiap melanjutkan aksi keesokan harinya, yang jaraknya lebih jauh lagi.

Jum’at, (16/6), Perjalanan panjang kembali kami mulai. Sekitar pukul 9 pagi, tim bergerak dari tempat istirahat bersiap menuju lokasi. Hari tersebut dipastikan perjalanan akan sangat panjang dan menantang. Selain menyiapkan tim, yang terdiri dari Staff Program ACT Aceh, Ketua Masyarakat Relawan Indonesia/MRI Aceh, serta relawan lokal Simeulu, kami juga memastikan kemasan paket pangan yang disiapkan oleh tim relawan lokal siap dibawa menyeberang ke seberang laut.  Iya, perjalanan hari ini akan melalui jalan darat dan laut untuk mencapai dua titik lokasi pendistribusian paket pangan Ramadhan.

Tim sempat berhenti sebentar untuk melakukan salat jumat, sebelum kemudian melanjutkan perjalanan kembali menyeberang dengan menggunakan perahu yang bisa mengangkut 2 mobil serta penumpangnya. Perjalanan penyebarangan menuju lokasi memakan waktu hingga dua puluh menit. Sebuah perjalanan yang menyajikan pemandangan indah, lautan berpadu dengan hijaunya pohon – pohon yang mengelilingi pulau yang kami seberangi.

Setelah sempat melewati perjalanan panjang melewati jalanan berbatu yang diapit oleh pepohonan, tim tiba tepat saat waktu salat Ashar. Tim segera bersiap untuk menyalurkan paket pangan ini di titik kedua, yakni Desa Ujung Harapan. Kembali tim dibuat terharu melihat antusiasme yang tinggi dari masyarakat sekitar, yang menyambut bahagia paket yang didistribusikan Tim ACT sore itu.

Mengingat keterbatasan waktu dengan keharusan menyalurkan paket yang sama dititik ketiga, yang juga membutuhkan perjalanan darat hingga dua jam, tim segera bergerak setelah menyerahkan batuan di Desa Ujung Harapan tersebut menuju Dusun Laut Tawar. Kembali tim relawan lokal mengingatkan kami, bahwa perjalanan ini akan lebih ekstrem dan melelahkan.

Nyaris dua jam kemudian, setelah melewati jalanan berbatu yang diapit hutan serta jarangnya rumah penduduk, serta jalanan yang penuh tanjakan dan turunan memberikan sensasi tersendiri bagi kami di dalam mobil. Kami tiba di Dusun Laut Tawar tepat beberapa menit menjelang waktu magrib dan berbuka puasa.

Di titik pendistribuan ketiga ini, Desa Amabaan, Kecamatan Simeulu Barat, kami bertemu dengan warga yang sedang bersiap menyambut buka puasa di Masjid Baitul Maghfirah. Jangan bayangkan Masjid ini adalah bangunan permanen yang biasa kita lihat di Kota – Kota. Masjid yang menjadi pusat kegiataan keagamaan warga disini adalah bangunan dari kayu yang sederhana sekali, bila mengingat fungsinya sebagai tempat utama dan penting bagi warga dalam menjalakan aktifitas keagamaan.

Kami sempat melakukan proses pembagian paket tepat sebelum azan magrib berkumandang, sekaligus tanda berbuka puasa tiba, dan syukurlah prosesnya berjalan cepat dan ringkas. Namun keharuan tidak hanya berhenti dalam proses penyaluran paket pangan tersebut, yang lebih ‘menggerimiskan hati’ adalah tentang fakta – fakta yang kami dapatkan dari warga setempat, terutama ketika forum silaturrahim dibuka, setelah prosesi salat Isya dan salat Tarawih, dimana Tim ACT dan relawan ikut serta berbuka dan melakukan salat tarawih bersama warga setempat.

Kepala Dusun mengatakan bahwa fasilitas masjid ini sangat minim, serta sulit bagi mereka untuk dapat melakukan perubahan agar menjadi keadaan yang lebih baik, karena terkendala dana serta keterbatasan yang mereka alami sebagai dusun yang berada dikawasan Komunitas Adat Terpencil (KAT).

Mereka hidup dalam kesederhanaan yang kental. Ada banyak kekurangan yang membutuhkan uluran tangan mereka yang lebih mampu, serta perhatian lebih merata dari pemerintah setempat agar kondisi mereka bisa lebih baik.

Diantara banyak hal yang mengharukan tentang kondisi Desa ini adalah, mereka baru saja mengenal penggunaan listrik ditahun 2005, dan yang lebih mengharukan selain kondisi masjid yang mereka gunakan selama ini, ternyata selama Ramadhan ini jamaah masjid menggunakan alas tikar untuk menutupi kekurangan sajadah di masjid tersebut, tikar tersebut milik  jamaah (warga) yang dibawa dari rumahnya untuk dipinjamkan selama bulan Ramadhan.

Mereka jelas sekali terharu dan sangat berterimakasih atas Paket Pangan Ramadhan  yang diantarkan langsung Tim ACT ketempat mereka, mengingat tempat mereka yang jauh serta mereka tahu perjuangan yang harus dilalui untuk sampai di lokasi.

Menemukan hal-hal seperti ini di lapangan buat kami adalah hal yang istimewa, sekaligus membuat kami terus semangat ingin berbuat lebih banyak dalam ‘mengulurkan tangan’ bagi mereka yang membutuhkan. Sungguh, kepedulian kita sangat besar artinya bagi mereka. Dan melihat bagaimana mereka ikhlas dan berbesar hati menjalani hidup dalam semua keterbatasan yang ada,  sungguh akan membuat hati kita ‘gerimis’ dan menanyakan pada diri, nikmat Tuhan mana lagi yang sanggup kita dustakan? Astaghfirullah…

Maka menjelang kian akhir Ramadhan ini, semoga kita kian mendekat pada pemahaman – pemahaman kebaikan, yang mengantarkan kita pada pemaknaan hidup yang sejati. Bahwa kebahagiaan hidup sesungguhnya memiliki banyak jalan sederhana untuk menempuhnya, diantaranya terletak pada memperbanyak syukur dan berbagi kebaikan pada sesama. []