Mulai Berzakat

Cerita Sahur dari Pengungsian Korban Kebakaran Kampung Bandan

1
  •   Date :  May 20, 2019
  •   Reza Mardhani
  •   Editor Dyah Sulistiowati
  •   Viewers :  74

ACTNews, JAKARTA - Duduk di dekat tumpukan kardus bantuan berisi baju-baju, Rukmini baru saja menyelesaikan santap sahurnya. Sabtu (18/5) pagi itu, ia mendapatkan paket sahur dari Humanity Food Truck bekerja sama dengan Tiket.com.

“Kalau sandang dan pangan, alhamdulillah kita tercukupi dengan adanya bantuan-bantuan seperti ini, jadi kalau untuk makan dan pakaian itu sekarang kita tidak kekurangan lah,” kata Rukmini.

Ia mengaku senang dengan adanya bantuan dari Global Zakat-ACT dengan Tiket.com ini. Tetapi Rukmini mengutarakan sendiri, di sisi lain baginya sedih mesti melewati Ramadan ini di pengungsian setelah rumahnya di Kampung Bandan, Jakarta Utara, terbakar pada Sabtu (11/5) pekan lalu.

“Biasanya kalau Ramadan ini bisa kumpul-kumpul sama keluarga semua di rumah kan, kalau sudah di pengungsian begini, untuk tidur saja sulit. Karena kondisinya seadanya seperti ini,” ungkap Rukmini.

Kondisi di tenda yang menampung sekitar 3.000 pengungsi ini memang serba sulit. Sebagian tinggal di emperan, sebagian lagi tersebar di tenda-tenda yang didirikan di bagian belakang ruko Grand Boutique Center Jakarta. Warga yang tinggal juga hanya bergantung pada bantuan, baik untuk berbuka maupun sahur.

Tetapi di tengah kesulitan tersebut, ibadah Ramadan berjalan seperti biasa. Tim Global Zakat-ACT, berserta tim dari Tiket.com berkeliling dari tenda ke tenda, dari emperan ke emperan untuk memberikan makanan agar ibadah puasa warga tetap berjalan. Salah satu pengungsi yang menerima santap sahur itu adalah Nurdin. Baginya, kondisi sulit bukan alasan untuk tidak berpuasa.

“Tetap berpuasa walaupun kondisi seperti ini, dan untungnya kami dapat bantuan dari dari berbagai pihak, salah satunya dari Humanity Food Truck. Kami senang, merasa terbantu karena kami sangat membutuhkan bantuan memang, terutama untuk makanan,” ujar Nurdin.

Menurut Nurdin, pengungsi juga membutuhkan obat-obatan karena kondisi pengungsian yang kurang layak. Terutama untuk anak-anak yang ikut mengungsi di antara bangunan-bangunan ruko tersebut.

“Memang rawan penyakit kalau di pengungsian seperti ini. Saya sudah berapa kali minggu ini terkena masuk angin. Tetapi untungnya ada bantuan obat-obatan juga dari pemerintah atau lembaga lainnya,” ujar Nurdin.

Mulai Ahad (19/5), Nurdin kembali bekerja membangun rumahnya. Harapannya proses pembangunan rumahnya berlangsung cepat dan ia dapat pindah kembali ke Kampung Bandan.

Harapan itu juga yang diucap Manaf, ketua RT setempat. Harapan terbesar warga saat ini adalah kembali ke rumah mereka masing-masing. Karena menurut Manaf, kondisi di pengungsian kurang layak ditinggali anak-anak.

“Kondisi warga di sini mengkhawatirkan karena banyaknya anak-anak kecil, terutama yang balita dan yang masih bayi di pengungsian ini. Alhamdulillah, kalau untuk kebutuhan kita masih cukup dari bantuan seperti ini, tapi mesti dipikirkan kembali kapan ke depannya kita akan pindah,” katanya. []