Mulai Berzakat

Antarkan Air Bersih untuk Warga Sumur Meski Jalan Menantang

Antarkan Air Bersih untuk Warga Sumur Meski Jalan Menantang
  •   Date :  February 04, 2019
  •   Eko Ramdani
  •   Editor Dyah Sulistiowati
  •   Viewers :  28

ACTNews, PANDEGLANG - Terik pagi itu, Edi mengemudikan truk Hino tipe 500 menuju Kecamatan Sumur di Kabupaten Pandeglang, Banten. Pedal gas diinjaknya. Bersama dua orang sebagai kernet, Edi mengemudi dengan hati-hati juga teliti. Jalan yang dilalui tak semua mulus, juga tak selebar untuk sebuah truk besar melintas.

Rabu (27/1), Edi dan timnya bergerak ke Kecamatan Sumur untuk mendistribusikan air bersih bagi warga terdampak tsunami. Tangki diisi penuh dari sumber air yang berada di jalur penghubung Labuan dengan pusat kota Pandeglang. Jika dalam keadaan penuh, truk tangki yang dijuluki Humanity Water Tank tersebut dapat menampung hingga 10 ribu liter air bersih. Pengoperasian Humanity Water Tank  ditopang dari dana zakat masyarakat Indonesia yang disalurkan melalui Global Zakat-Aksi Cepat Tanggap (ACT).

Sejak pagi, truk berangkat dari Posko Logistik ACT untuk Bencana Tsunami Selat Sunda yang berada di Jalan Raya Labuan-Pandeglang. Lebih kurang 60 kilometer atau sekitar 1 jam 46 menit ditempuh Edi beserta timnya hingga tiba di Kecamatan Sumur. Jalur terdekat menuju ke kecamatan tersebut adalah dengan melalui Tanjung Lesung.

Namun demikian, truk tidak akan melintas Tanjung Lesung yang menawarkan pemandangan keindahan pantai berpasir putih. Walau secara jarak lebih dekat, bobot truk yang berat berisiko terporosoknya kendaraan akibat jalan yang masih berupa tanah dan berubah menjadi lumpur saat hujan datang.

Edi mengatakan, membawa Humanity Water Tank ini merupakan sebuah tantangan. Bukan hanya karena perjalanan dari posko logistik hingga Kecamatan Sumur yang jauh, tapi juga medan jalan yang rusak. Ia memilih melintas Kecamatan Cibaliung yang artinya akan menambah jarak tempuh sejauh hampir 40 kilometer. “Truk tidak stabil karena bermuatan air yang terus bergerak, salah pilih jalan juga bisa terperosok,” jelasnya, Rabu (27/1).

Melintas Cibaliung dengan menempuh jarak lebih jauh tidak menjadi jaminan jalan akan baik kondisinya.  Lebih dari 5 kilometer dari pertigaan Cibaliung hingga masuk Kecamatan Sumur, jalan aspal tak lagi tampak mulus. Lubang menganga menjadi teman perjalanan, sisanya merupakan jalan yang telah mengelupas aspalnya dan menyisakan kerikil kasar.

Jika hujan turun, jalan Cibaliung akan menjadi kubangan. Jalan juga akan licin. Tantangan lain bagi Edi membawa HWT dari Global Zakat ini melintas Cibaliung ialah jalan yang mendaki, juga turunan terjal. “Lewat Cibaliung jalannya mendaki juga menurun, tapi itu lebih baik daripada Tanjung Lesung yang akan berpotensi mobil terguling akibat jalan masih berupa tanah,” tambah Edi.

Terharu

Setiba di Kecamatan Sumur, biasanya Edi membawa truknya berhenti sejenak di Posko ACT Wilayah Sumur. Ia menjemput tim dari posko tersebut untuk menunjukkan lokasi pendistribusian. Rabu (27/1) siang itu, Edi akan mendistribusikan air bersih ke tandon yang telah disediakan di Desa Sumberjaya dan Kertajaya.

Ini bukan yang pertama Edi mendistribusikan air di Pandeglang. Sudah sejak pekan kedua pascatsunami Edi beserta timnya melakukan aksi pendistribusian air ke Sumur. Ia pun merasa terharu melihat kondisi yang ada di ujung barat bagian selatan pulau Jawa itu.

“Tugas saya ke tempat bencana baru sekarang ini, ditugaskan dari ACT untuk mendistribusikan air bersih. Rasa terenyuh, apalagi setiap saya tiba. Belum juga parkir truk, tapi warga sudah berkumpul menunggu air bersih yang saya bawa,” ungkapnya. []